Sorga gempar. Heboh!!!

Para malaikat kasak-kusuk satu dengan yang lainnya membicarakan berita yang baru saja mereka dengar. Gabriel yang baru datang langsung dikerubuti dan ditanyai (maklum, pembawa berita penting yang terpercaya).

“Sudah diputuskan.” Kata Gabriel, “Allah yang menjelma menjadi manusia yang sekarang sedang dikandung oleh Maria akan lahir di kandang binatang di Bethlehem-Efrata.”

“Hah??? Jadi berita itu benar?” Tanya salah satu malaikat.

“Mengapa harus di kandang, apakah tidak ada tempat yang lebih layak?” sambung malaikat yang lain lagi.

“Bukankah Dia Allah, dan di Yerusalem yang tidak jauh dari Bethlehem ada Bait Allah?” malaikat yang pertama berargumen. “Karena Dia Allah, sudah sepantasnyalah jika Dia lahir di Bait Allah.”

Gabriel menanggapinya dengan mengambil sekeping DVD kemudian memasukkannya ke dalam DVD player sehingga tampillah di layar sebuah film yang dibuat berdasarkan keMahaTahuan Allah. Jelas terlihat di film tersebut bagaimana para Imam kepala, Ahli Taurat, orang Farisi dan Saduki menjalankan ibadah mereka dengan penuh kemunafikan hati mereka yang tamak membuat mereka mengizinkan orang berjualan di Bait Allah. Rasa iri dan dengki dalam hati mereka yang berpuncak pada penyaliban Yesus juga tak luput ditayangkan.

“Itulah alasan, mengapa Bapa tidak mengizinkan Yesus dilahirkan di Bait Allah, walaupun sebenarnya bukan hal yang mustahil bagi Dia untuk melakukan hal itu.” Kata Gabriel menjelaskan.

“Tapi, tunggu dulu… bukankah di Yerusalem juga ada istana raja, dan Yesus adalah Raja di atas segala raja. Apakah tidak lebih baik kalau Yesus dilahirkan di istana raja tersebut?” sanggah malaikat yang lain lagi.

Gabriel kemudian mengambil keeping DVD yang kedua kemudian memutar film lagi. Kali ini terlihat di layar, Herodes, sang raja boneka kekaisaran Roma. Kesombongannya, ambisinya akan jabatan yang menyebabkan ia membunuh anak-anak kandungnya sendiri karena takut mereka akan menggantikan dia nanti, juga tipu muslihat dan segala jenis kejahatan yang dilakukannya, termasuk nafsunya untuk membunuh bayi Yesus terpapar jelas dalam film tersebut.

“Oh… pantesan…” sahut malaikat yang lainnya lagi. “Bagaimana mungkin Bapa mengizinkan Anak Tunggal-Nya lahir di tempat yang penuh kejahatan itu,” katanya sambil manggut-manggut.

“Hei… Gabriel, wait a moment plizzzz… oke-lah, Yesus harus lahir di Bethlehem karena memang itu sudah dinubuatkan sejak dulu. Tapi kan setidaknya masih ada tempat yang cukup layak untuk Yesus dilahirkan. Rumah penginapan, misalnya…”

Tanpa menyahut, Gabriel kemudian mempersilahkan malaikat-malaikat itu melihat peristiwa yang berlangsung di bumi, di kota Bethlehem. Sepasang orang muda sedang melangkahkan kaki mereka dari rumah penginapan yang satu ke rumah penginapan yang lain. Terlihat nyata, betapa tidak berbelas-kasihannya para pemilik rumah penginapan terhadap si tukang kayu dan istrinya yang sedang mengandung. Mereka memakai alasan bahwa penginapan sudah penuh hanya karena pasangan itu tidak punya uang yang cukup untuk membayar biaya penginapan yang mahal karena banyak orang yang pulang mendaftarkan diri dan butuh tempat menginap.

“Sekarang, lihatlah alasan Bapa memilih kandang yang hina di padang Efrata sebagai tempat lahirnya Sang Juruselamat.” Kata Gabriel menyadarkan para malaikat.

Tiba-tiba di depan seluruh malaikat itu terbentang sebuah layar yang besar. Di situ mereka melihat diri mereka sedang menyanyikan pujian di depan mata para gembala di padang Efrata. Mereka juga melihat, bagaimana para gembala meresponi berita kelahiran Yesus di kandang binatang yang para malikat itu sampaikan. Para gembala langsung berlari untuk menyembah bayi Yesus itu. Sungguh kontras dengan respon Herodes dan para Ahli Taurat yang walaupun tahu bahwa seorang Raja telah lahir di Bethlehem tapi mereka tidak bertindak apa-apa.

Dengan rasa haru para malaikat menyatakan kesetujuan mereka dengan pilihan Bapa mengenai tempat lahirnya Sang Mesias.

“Ayo… sekarang lekas bersiap. Waktu untuk menyanyikan pujian yang sekian ribu tahun kita latih hampir tiba. Kita harus menyanyikannya di depan para gembala itu sebentar lagi!” seru Gabriel mengingatkan kawan-kawannya.
Dengan segera para malaikat patuh, mereka menyiapkan diri untuk peristiwa besar yang mereka tunggu sekian lama. Mereka tahu, Bapa di sorga tidak pernah salah dengan tindakanNya. (stand’s)

rEgArds
sTanD’s

Sumber : Milist Youth GPdI