Penulis terkenal, Clemens Alexandrinus, mengungkapkan kisah yang dramatis pada saat Yakobus, murid Yesus, akan dihukum mati pada tahun 44 M oleh perintah raja Herodes Agrippa I. Pada saat Yakobus dibawa ke tempat eksekusi, keberaniannya yang luar biasa menimbulkan kesan yang mendalam pada satu orang yang hendak mengeksekusinya. Orang itu jatuh berlutut di depan rasul Yakobus, minta ampun kepadanya dan mengaku bahwa ia adalah orang Kristen juga. Ia berkata kepada Yakobus agar jangan mati sendiri, akibatnya mereka berdua dipenggal kepalanya.
Meski hukuman, aniaya atau siksaan yang harus ditanggung oleh murid-murid Kristus itu sedemikian luar biasa mengerikan, tapi mereka memiliki keteguhan hati yang mengagumkan. Mereka memiliki keberanian untuk menghadapi konsekuensi sebagai pengikut Kristus, bahkan yang lebih luar biasa, mereka justru menganggap penderitaan karena Kristus adalah kehormatan. Hal inilah yang membuat kekristenan tidak bisa dibendung apalagi dipadamkan, meski dengan ancaman aniaya sekalipun. Sebagaimana menderita bagi Kristus adalah sebuah kehormatan, demikian juga pelayanan untuk memberitakan Injil adalah kehormatan.
Siapakah kita hingga kita dipercaya menjadi duta Kerajaan Allah untuk menyampaikan kabar baik kepada banyak orang? Apalagi mengingat kembali kehidupan lama kita yang kelam, tentunya menjadi pelayan Injil adalah hal yang luar biasa. Apakah kita memiliki keberanian untuk menjadi saksi Kristus dimanapun kita berada? Ataukah sebaliknya kita justru menyembunyikan identitas kita sebagai orang Kristen demi kemudahan karir, demi sebuah posisi, demi membeli rasa aman,dsb?
Melihat kembali pengorbanan para martir demi Injil sampai kepada bangsa-bangsa, kiranya membuat kita introspeksi diri, sekaligus kita bisa belajar dari semangat, keberanian dan pengorbanan mereka dalam memberitakan Injil. Menjadi pelayan Injil adalah kehormatan yang luar biasa bagi kita.

Sumber : Milis yahoo