Pdt AH Mandey: Wahyu 1:13-16

Wahyu 1:13-16

“Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api. Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah. Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.”

Anak manusia adalah Yesus sendiri! Mari kita pelajari tentang Yesus yang dilihat Yohanes:

1. Ada di tengah-tengah kaki dian.

Anak manusia yaitu Yesus ada di tengah-tengah kaki dian, yaitu gereja Tuhan atau orang-orang percaya. Ia ingin selalu berada di tengah umatNya. Sejak zaman Adam dan Hawa, kita mengenal Allah yang setiap hari datang ke taman firdaus untuk ada bersama manusia ciptaanNya.

Matius 18:20 – “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Yesus selalu ada di tengah karena Ia ingin menjalin hubungan dan komunikasi dengan manusia. Bahkan ketika disalib, Yesus ada di tengah, di antara dua orang penjahat.

2Korintus 6:16 – “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi uamtKu.” Di zaman Musa, Allah memberi perintah untuk mendirikan bait suci agar Ia bisa tinggal di tengah umatNya. Keluaran 25:8 – “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagiKu, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.”.

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14).

Mengenai kota Yerusalem baru, wahyu 21:1-3 menulis demikian:

“Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.

Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.”

Dari ayat-ayat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Allah senantiasa ingin tinggal di tengah-tengah umatNya. Ia ingin menjadi yang terutama dalam kehidupan kita dan selalu mempunyai hubungan dengan umatNya.

2. Berpakaian jubah panjang sampai di kaki.

Kejadian 37:3 – “Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.” Sebagai tanda kasih kepada Yusuf, Yakub memberikan sehelai jubah yang maha indah. Terjemahan bahasa Inggris menulis: a coat of many colours = jubah berwarna-warni. Dalam bahasa Ibrani, kata maha indah atau of many colours adalah kata “PAC” yang berarti lengan panjang sampai ke kaki. Jadi bukan sekedar jubah yang maha indah dan berwarna-warni, tetapi juga yang panjang sampai ke ujung kaki.

Yusuf merupakan bayangan dari Yesus. Yusuf-lah yang memberi makan bangsa Mesir ketika terjadi bala kelaparan yang sangat hebat. Sama seperti Yesus yang adalah pemberi Roti Kehidupan. Yusuf pernah dijual dan dianggap telah mati, sementara pakaiannya dicelup dalam darah sebagai bukti untuk orang tuanya. Ini adalah juga bayangan dari Yesus yang dianggap mati dan darahNya tertumpah.

Yohanes melihat Anak Manusia berpakaian jubah panjang sampai ke kaki. Berbeda dengan yang ditulis dalam Yohanes 13:4-5 – “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.” Yesus melepas jubahNya dan hanya mengenakan kain yang dililitkan pada pinggang. Ia merendahkan diri untuk melakukan pekerjaan seorang hamba, yaitu mencuci kaki murid-muridNya.

Ketika tiba giliran Petrus, ia menolak. “…Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku? Jawab Yesus kepadanya: Apa yang Kuperbuat engkau tidak tahusekarang, tetapi engkau akan mengerti kelak.Kata Petrus kepadaNya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” (Yoh 13:6-8). Mengetahui ia tidak akan mendapat bagian dalam Yesus jika kakinya tidak dibasuh, Petrus lalu berkata, “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” kata Yesus kepadanya: Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya.” Orang yang telah disucikan Tuhan, tidak lagi perlu disucikan, kecuali kakinya yang perlu dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel sepanjang perjalanan hidupnya.

Yohanes 13:12a mencatat, bahwa “Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mngenakan pakaianNya dan kembali ke tempatNya.” Jadi ada waktunya Yesus mengenakan jubah, tetapi ada pula saatnya Ia melepaskan jubahNya dan mengenakan ikat pinggang. Setelah selesai, Ia kembali mengenakan jubah. “Mengenakan jubah, melepas jubah dan memakainya kembali”. Ini semua mempunyai makna dan Yesus ingin agar murid-murid mengerti artinya.

Dalam Yohanes 13:13, Yesus denga jelas mengaku bahwa diriNya memang guru dan Tuhan. Dan Ia telah meninggalkan suatu teladan agar kita-pun berbuat hal yang sama. Ayat 14 berkata, “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah kuperbuat kepadamu.”

Jubah adalah pakaian kehormatan. Jubah juga berarti tanda seseorang dikasihi. Tetapi Yesus melepaskan jubahNya, untuk menjadi seorang hamba yang siap membasuh kaki murid-muridnya. Rasul Paulus dalam Filipi 2:6-7 menggambarkan Yesus yang datang ke dalam dunia: yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan telah menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2:5 berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Kita wajib meninggalkan kemuliaan, berani melepaskan kehebatan dan kekuatan kita untuk merendahkan diri serta mencuci kaki sesame saudara.

Filipi 2:8-9 selanjutnya mencatat, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.” Setelah mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, Yesus akhirnya sangat ditinggikan dan dipermuliakan oleh Allah. setelah melepaskan jubah untuk membasuh kaki murud-murid, Yesus kembali mengenakan jubahNya. Artinya Ia kembali dipermuliakan. Memakai jubah, melepaskan dan memakainya kembali. Yesus yang mulia merendahkan diri menjadi manusia, mati di kayu salib, bangkit dan diangkat kembali oleh Allah. Yesus ingin kita mengerti hal ini: kita tidak dapat melepaskan diri dari proses penderitaan salib. Yesus menampakkan diri kepada Yohanes sebagai Dia yang telah mati (= melepaskan jubah) tetapi yang hidup sampai selama-lamanya (= mengenakan kembali jbahNya).

Keluaran 28:2 mengatakan bahwa jubah panjang adalah pakaian imam besar. “Haruslah engkau membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmua, sebagai perhiasan kemuliaan.” Keluaran 39:27-29 – “Dibuat merekalah kemeja dari lenan halus, buatan tukang tenun, untuk Harun dan anak-anaknya, serban dari lenan halus, destar yang indah dari lenan halus, celana lenan dari lenan halus yang dipintal benangnya, dan ikat pinggang dari lenan halus yang dipintal benangnya, kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi, dari tenunan yang berwarna-warna — seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.” Pakaian imam besar adalah pakaian yang berwarna-warna, sebagai perhiasan kemuliaan, yang terdiri dari kemeja, serban, destar, celana dan ikat pinggang.

3. Kepala dan rambutNya berwarna putih metah.

Putih berbicara dari hal kesucian dan kebenaran. Putih metah artinya putih sekali. Daniel 7:9 mencatat, “Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaianNya putih seperti salju dan rambutNya bersih seperti bulu domba; kursiNya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar.”

“…Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju” (Yes 1:18)

“Rambut putih merupakan mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran” (Ams 16:31).

Jadi rambut putih berbicara tentang 3 hal:

1. tua, kekal.

2. suci.

3. bermahkota = dihormati.

Yesus datang sebagai Seorang yang suci dan dihormati, bukan lagi sebagai hamba yang melepaskan jubah. Ia telah melalui proses penderitaan.

4. MataNya bagaikan nyala api.

MataNya melihat semua, menyelidik segala perkara. Alkitab menggambarkan Allah sebagai api:

“Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan…”(Ul 4:24).

“Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan”(Ibr 12:29).

Allah digambarkan sebagai api yang menyucikan, sama seperti emas dan perak yang dibakar dengan api untuk mengeluarkan segala macam kotoran dari dalamnya. Mata Tuhan seperti api yang menyala; Ia dapat menyucikan, menyelidiki, dan menghanguskan segala sesuatu.

“Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab”(Ibr 4:13).

Mata Tuhan melihat semua. Tidak ada yang tersembunyi di hadapanNya.

“TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia”(Mzm 11:4).

Tuhan bukan hanya menyelidik perbuatan, tetapi juga pikiran kita. Baru memikirkan sesuatu yang tidak berkenan kepada Allah, kita sudah berdosa. Dan Allah mengetahui semuanya. Hanya Dia yang dapat melihat apa yang ada dalam pikiran manusia.

5. Kakinya mengkilap bagaikan tembaga membara dalam perapian.

Tembaga berbicara tentang hukuman atas dosa. Ia berdiri dengan kaki bagaikan tembaga yang mengkilap artinya Ia sudah dibersihkan melalui api yang membara. Ia datang membawa pehukuman.

“Siapa dia yang datang dari Edom, yang datang dari Bozra dengan baju yang merah, dia yang bersemarak dengan pakaiannya, yang melangkah dengan kekuatannya yang besar?” “Akulah yang menjanjikan keadilan dan yang berkuasa untuk menyelamatkan!” “Mengapakah pakaian-Mu semerah itu, dan baju-Mu seperti baju pengirik buah anggur?” “Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku! Aku telah mengirik bangsa-bangsa dalam murka-Ku, dan Aku telah menginjak-injak mereka dalam kehangatan amarah-Ku; semburan darah mereka memercik kepada baju-Ku, dan seluruh pakaian-Ku telah cemar. Sebab hari pembalasan telah Kurencanakan dan tahun penuntutan bela telah datang.” (Yes 63:1-4)

Ayat-ayat ini merupakan nubuatan tentang hari kedatangan Tuhan kembali. Ia akan datang sebagai Hakim yang Adil, yang akan mendatangkan pehukuman dan membinasakan bumi beserta seluruh isinya. Pehukuman yang luar biasa hebat akan datang, tetapi sebelumnya, Allah ingin mempersiapkan GerejaNya.

6. Suaranya bagaikan desau air bah.

· “Sungguh, kemuliaan Allah Israel datang dari sebelah timur dan terdengarlah suara seperti suara air terjun yang menderu dan bumi bersinar karena kemuliaan-Nya”(Yeh 43:2).

· “Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya”(Why 14:2).

· “Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja”(Why 19:6).

· “Hai kerajaan-kerajaan bumi, menyanyilah bagi Allah, bermazmurlah bagi Tuhan; bagi Dia yang berkendaraan melintasi langit purbakala. Perhatikanlah, Ia memperdengarkan suara-Nya, suara-Nya yang dahsyat!”(Mzm 68:33-34).

Sebelum Ia memperdengarkan suaraNya, kita harus menyanyi/bermazmur terlebih dahulu. SuaraNya yang dahsyat artinya suara yang penuh kuasa. Terjemahan bahasa Inggris memakai kata: A mighty voice”.

“Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. Lalu Musa membawa bangsa itu keluar dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung. Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat. Bunyi sangkakala kian lama kian keras”(Kel 19:16-19a).

Ketika suara Allah terdengar, seluruh gunung Sinai gemetar sangat.

“Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga? Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan”(Ibr 12:25-27).

Mereka yang mendengar injil tetapi menolaknya, tidak akan luput dari pehukuman. Apalagi kita yang sudah mendengar dan menerima tetapi kemudian berpaling; hukuman bagi kita akan lebih hebat. Langit dan bumi akan goncang karena suara Tuhan.

“Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya,

dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum”(Yoh 5:28-29).

Suara Tuhan demikian kuat sehingga semua orang yang sudah mati akan mendengarnya. Ini berbicara mengenai kebangkitan kedua. Kita mengenal dua macam kebangkitan:

Kebangkitan I: kebangkitan orang-orang percaya. Terjadi pada saat Yesus datang kembali.

Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun”(Why 20:4).

kebangkitan II: kebangkitan semua orang jahat untuk dihakimi. Terjadi setelah masa 1000 tahun damai.

“Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu”(Why 20:12).

7. Tangan kananNya memegang tujuh bintang.

Sebelah kanan merupakan tanda kehormatan. Setelah mati di kayu salib dan bangkit, Yesus diangkat dan dipermuliakan oleh Allah dan duduk di sebelah kanan Allah. menjelang ajalnya, Stefanus melihat Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah Bapa. Tangan kehormatan inilah yang memegang 7 bintang.

Wahyu 1:20 berkata bahwa ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat. Siapakah malaikat jemaat? Ia adalah gembala jemaat (Wahyu 2:1, 2:8 dst.). para gembala jemaat inilah yang dipegang dalam tangan kanan Yesus yang penuh kuasa.

Mazmur 8:4 berkata, “Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu…” Langit yang luas dibuat hanya oleh jari Allah, sementara manusia dijadikan oleh tangan Allah.

Yohanes 10:27-29 menulis, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.”

Tak seorangpun dapat merebut kita dari tangan Tuhan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Ia bukan hanya memegang para gembala, melainkan juga domba-domba, yaitu seluruh jemaat ada dalam tangan Tuhan.

Karenanya Rasul Paulus menulis dalam Roma 8:38-39,

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Tak ada satu kuasa yang dapat memisahkan dan merebut kita dari tangan Allah, kecuali kemauan kita sendiri!