Memperlengkapi dan Memberdayakan Pelayanan Tuhan

Medan.
Pada hari kedua pelaksanaan konferensi Eastern Council of Foursquare Churches (ECFC) yang dijadwalkan berlangsung 7-10 Oktober 2008 dipusatkan di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Maranatha Jalan S Parman Medan diikuti 500 peserta di 150 negara utusan organisasi gereja denominasi Pantekosta dan Kharismatik menyampaikan pesan rohani agar pemimpin gereja memperlengkapi orang-orang muda untuk dapat diberdayakan dalam pelayanan.

Pembicara dalam konferensi pertama, Rabu (8/10) disampaikan Pendeta Daniel Brown asal Amerika Serikat dalam bahasa inggris berjudul ‘Emerging Youth Leaders’ atau ‘Membangun Kepemimpinan Muda’ menyebutkan, bahwa saat ini para pemimpin gereja harus memperlengkapi orang-orang muda untuk memimpin agar dapat diberdayakan dalam melakukan pelayanan-pelayanan .

“Ukuran keberhasilan pemimpin gereja bukan dilihat dari jumlah jemaatnya, namun dari pemberdayaan yang dihasilkan dalam pelayanan untuk kemuliaan Tuhan,” kata Pendeta Daniel Brown. Sesuai dengan tema konferensi ECFC ke-6 yang dilaksanakan di Indonesia, pemimpin gereja yang senior atau yang telah melakukan perintisan tidak lagi memiliki rasa takut digeser, bahkan harus memberikan tempat bagi orang-orang muda yang telah diperlengkapi sebagai pemberdayaan.

Mengenai pemberdayaan orang muda untuk melakukan pelayanan itu, lebih ditekankan oleh pembicara kedua, Pendeta Lorelle Magee dengan menyampaikan, bahwa ‘anggur baru tidak bisa disimpan di kirbat yang lama’. Dijelaskannya, generasi muda saat ini harus mendapatkan pembinaan dengan cara diberikan latihan dan pengembalaan oleh para pemimpin untuk dipersiapkan hingga siap diberdayakan.

“Orang-orang muda berpotensi harus bisa diberdayakan, akhirnya mereka dapat masuk dalam pelayanan panggilan Tuhan. Maka jemaat yang aktif dapat diperlengkapi untuk diperdayakan, sehingga dapat diutus untuk melakukan pelayanan,” jelas Lorelle Magee.

Ketua Panitia konferensi Eastern Council of Foursquare Churches (ECFC) ke-6, Pdt. MD Wakkary kepada Batak Pos mengatakan, peserta berasal dari 150 negara mempercayakan konferensi dilaksanakan di Indonesia. Visi dan misi persekutuan gereja Asia Pasifik diantaranya, meningkatkan persatuan dan kerjasama dalam pelayanan, meningkatkan kualitas serta saling membantu gereja-gereja di negara yang lemah keuangan maupun pendidikan.

“ECFC bukan disebut sebagai donatur, namun tepatnya menjadi wadah untuk saling membatu yang lemah. Bantuan juga berdasarkan kebutuhan, panggilan dengan sukarela. Maka sukarela juga tidak dapat diukur dengan uang,” jelas Pdt MD Wakkary.

Dijelaskannya, triparty kepemimpinan Gereja meliputi pimpinan Gereja, Wanita dan Pemuda yang akan dibahas dalam konferensi ECFC ke-6 ini sangat berguna bagi negara-negara Asia-Pacifik khususnya bagi Indonesia

Sehari sebelumnya pada pembukaan konferensi ECFC di GPdi Maranatha Medan, Selasa (7/10) malam, Gubernur Sumut Syamsul Arifin dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Dewan Eksekutif Eastern Council of Foursquare Churches (ECFC) yang mempercayakan Sumut menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara bertaraf internasional tersebut. Menurut Syamsul Arifin, kepercayaan yang diberikan tersebut tidak akan disia-siakan. Gubsu mengajak seluruh masyarakat Sumut untuk turut mensukseskan dengan memperlihatkan Sumut nyaman dan tentram serta rukun dalam menjalankan ibadah.

Konferensi yang membahas kepemimpinan yakni Pimpinan Gereja, Wanita dan Pemuda sangat penting artinya bagi setiap negara, terutama bagi Indonesia sendiri. Acara konferensi pemberdayaan dengan bertema ‘Kepemimpinan Tripartite’ tersebut diharapkan dapat mengembangkan kualitas pelayanan. “Umat beragama harus saling menghormati, mengasihi dan menyayangi. Tidak ada yang salah tapi kita lah yang salah karena tidak mengerti apa kehendak Allah,” kata Gubsu.

Pembukaan konferensi ditandai dengan pemukulan alat musik Tradisional Batak Tagading oleh Gubsu Syamsul Arifin SE, didampingi Ketua Panitia Pdt DR MD Wakkary, Ketua Majelis Pusat GPdI Pdt A Hanny Mandey, Ketua Dewan Eksekutif ECFC Pastor Wayne Magee beserta sejumlah pimpinan Gereja di Sumut di antaranya Ketua PGPI Sumut Pdt Paul Wakkary, Pdt Lucas Timoteus dan lainnya. Acara pembukaan Konferensi ECFC ke-6 tersebut ditutup dalam doa yang dibawakan Ketua Majelis Pusat GPdI Pdt Hany Mandey.

Ketua Dewan Eksekutif ECFC Pastor Wayne Magee dalam sambutannya mengatakan, konferensi ECFC ke-6 ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan Gereja, Wanita dan Pemuda Gereja. Menurutnya, kedepan pimpinan Gereja, Wanita dan Pemuda Gereja harus lebih diberdayakan karena zaman telah jauh berkembang sehingga tidak bisa dihadapi dengan biasa-biasa saja.

Pastor Wayne juga mengingatkan agar para peserta jangan hanya datang tapi hendaknya saling berkenalan dan berkomunikasi dengan peserta negara lain, sehingga terjalin persaudaraan yang erat di dalam Yesus Kristus.

Seluruh peserta menginap di Hotel Danau Toba Internasional, Hotel Aryaduta dan Hotel Swiss-belHotel Medan. Jadwal tanggal 8 Oktober konferensi akan diisi dengan workshop yang masing-masing dibawakan oleh pembicara dari AS yakni Daniel Brown dengan topik Emerging Youth Leaders atau Memunculkan Pemimpin Muda, Joe Wainer mengantarkan topik How to Write a Foundation Grant Application, Bill Page dengan topik Operating in The Gift of the Spirit atau bergerak dalam karunia roh, Beth Barone dengan The Master Plan, Mike Larkin dengan topik Pure Desire atau keinginan murni dan Warren Mortomore dengan topik Reaching & Preserving the Endtime Harvest.

Jadwal tanggal 9 Oktober acara peserta juga masih akan mengikuti workshop dengan topik Raising Women into Ministry Leadership dibawakan Lorelle Magee, Chuch Planting in an Urban Context dibawakan Val Chaves dan Hoe to Operate a National Church Board dibawakan Leslie Keegel dari Australia. Acara juga dilanjutkan dengan pleno dipimpin Glenn Burris dan praise & worship. ion (rionaritonang, Batak Pos)