Oleh: Chuck Norris

Kebanyakan orang akan mengatakan, Chuck Norris telah meraih puncak sukses. Enam kali juara dunia karate, membintangi lebih dari 23 film serta menulis dan memproduksi serial populer televisi, Walker, Texas Ranger. Namun, sukses tidak mampu menyelamatkan keluarga Norris pada malam saat mereka menghadapi krisis yang mengancam kehidupan.

Norris benar-benar merasa tak berdaya saat istrinya, Gena, terpaksa melahirkan anak kembar mereka secara prematur.Namun, Norris juga tahu, ia dapat bersandar hanya kepada Tuhan. Ia mengenang peristiwa pada malam mencekam itu dalam otobiografinya, “Against All Odds: My Story”, ditulis bersama Ken Abraham, diterbitkan Broadman & Holman (2004).

“Saya telah mengumpulkan jutaan dolar sepanjang hidup saya,” tulisnya.

“Saya bersahabat dengan beberapa presiden [AS], namun seluruh uang di rekening bank saya saat ini tidak dapat menolong.. Hanya ada satu Orang yang kepada-Nya saya dapat berpaling.” Itu adalah Tuhan. Ia telah menyertai Norris sepanjang hidupnya, dan kali ini pasti tak berbeda.

Tuhan Punya Rencana Untukmu

Charlos Ray Norris dilahirkan 10 Maret 1940 di tengah keluarga miskin. Ayahnya pecandu alkohol, dan mereka sekeluarga sudah pindah rumah 16 kali saat ia mencapai usia 15 tahun. Ibu Norris, seorang Kristen yang teguh dan pejuang doa, tidak pernah menyerah atau membiarkan anak-anaknya menyerah di tengah kondisi sulit tersebut. “Tuhan punya rencana untukmu,” katanya kepada anak laki-lakinya setiap hari, menanamkan keyakinan dan keteguhan hati.

Iman ibunya ini merupakan teladan yang luar biasa bagi Norris muda. Ibunyalah yang bersikeras, agar mereka sekeluarga tetap ke gereja di mana pun mereka tinggal. Norris mulai mengalami hubungan pribadi dengan Yesus Kristus sejak dini, dan ia mendedikasikan kembali hidupnya kepada Kristus saat dewasa muda ketika ia mengikuti kebaktian Billy Graham.

Menurut Norris, ibunya terus menanamkan pengaruh yang besar bagi hidupnya. “Ia mengasihi Yesus dengan segenap hati dan jiwa, dan memastikan bahwa kami memahaminya,” katanya. “Ia mempengaruhi saya secara rohani dan menanamkan sikap bertanggung jawab yang saya bawa sampai dewasa. Ia selalu mengatakan, ‘Tuhan punya rencana untukmu.’ Semula saya tidak memahami apa maksudnya. Sekarang saya rasa saya memahaminya.”

Menemukan Pengampunan

Kariernya dimulai saat ia menjadi pilot yg ditempatkan di Korea untuk belajar bela diri. Pada mulanya ia bukan orang yang kuat, dan sukses tidak diraihnya secara gampangan, namun dalam delapan tahun, Norris berhasi menjadi juara dunia. Ia merupakan orang kulit pertama yang menyandang sabuk hitam tingkat delapan (grand master) dlm Tae Kwon Do.

Sukses dalam karate membuatnya menanjak dan terkenal. Ia membuka sekolah-sekolah karate dan muncul di televisi. Akhirnya Hollywood pun meliriknya, dan tidak lama kemudian ia tampil dalam film pertamanya.

Namun, seiring dengan kesuksesan dan kemasyhuran, kehidupan pribadinya justru berantakan. Norris dan istri pertamanya, Dianne, bercerai setelah 30 tahun menikah. Saat dua anak laki-laki mereka beranjak besar dan hidup mandiri, keterpisahan itu tak ayal mempengaruhi hubungan mereka. Meskipun sudah bercerai, ia dan Dianne tetap bersahabat.

Sepuluh tahun kemudian, kehidupannya berbelok tajam. Sepucuk surat dari putri yang tidak dikenalnya sampai di kotak suratnya. Pada tahun pertama pernikahannya, Norris berselingkuh saat bertugas jauh dari rumah. Ia tidak tahu bahwa pengalaman itu telah menjadikannya seorang ayah. Sungguh sulit bagi sosok seterkenal Norris untuk mengungkapkan pergumulan dalam sebuah buku yang akan dibaca banyak orang. Namun, Norris dan istri barunya menganggap tema pengampunan sebagai bagian penting dari kisah mereka. Putrinya dan suaminya sekarang menjadi bagian keluarga mereka, dan kesembuhan emosi pun melanda keluarganya – antara Norris dan ibu Deanna, antara Norris dan mantan istrinya, serta hubungan yang baru antara anak-anak laki-lakinya dan saudari tiri mereka.

“Semua ini adalah kelemahan manusia; kita semua mengalaminya, kita semua berdosa,” kata Norris. “Namun dalam kasus saya, dosa yang kemudian membuahkan putri saya telah diubah menjadi berkat. Saya tidak dapat membayangkan kehidupan saya tanpa dia dan anak-anaknya, 3 cucu saya.”

Mengadakan Program KICKSTART

Saat ini, anak-anak sangat penting bagi Norris. Setelah masa kehamilan yang sukar, Gena melahirkan dua anak kembar yang sehat – laki-laki dan perempuan, sekarang tiga tahun. Ia juga melanjutkan kiprahnya dalam program KICKSTART bagi anak-anak sekolah menengah. Semua keuntungan dari bukunya akan disumbangkan bagi program tersebut.

Lebih dari 30.000 anak telah lulus dari program itu, yang saat ini dijalankan di 37 sekolah. Meskipun fokusnya pada bela diri, program itu juga menawarkan banyak hal lain bagi anak yang mengikutinya – kebanyakan dari kawasan kumuh perkotaan. Anak-anak itu dibangun harga dirinya.

“Banyak yg melanjutkan kuliah, dan salah satu di antaranya baru lulus dari MIT melalui beasiswa,” kata Norris bangga. Ia sangat bersemangat dengan program tersebut, nyaris sebesar hasratnya akan kehidupan imannya. Menurut pengakuannya sendiri, ia bertumbuh semakin kuat dalam hubungan dengan Tuhan selama sepuluh tahun terakhir ini. Namun, Norris merasa frustasi pada mayoritas orang Kristen yang enggan berbicara tentang persoalan iman.

Ia dan Gena mendorong agar Alkitab kembali digunakan di sekolah umum. Mereka juga mendukung National Council of Bible Curriculum in Public Schools, yg bertujuan memadukan Alkitab sebagai bagian dari pelajaran fakultatif sejarah dan sastra.

Lalu, apa lagi yang masih ingin dilakukan oleh bintang laga bersuara lembut ini? Sebagai anggota Prestonwood Baptist Church di Dallas, ia dan Gena berharap nantinya dapat terlibat dalam pelayanan misi bila anak-anak mereka sudah lebih besar. Mereka juga ingin terus memantapkan program KICKSTART.

“Kami rindu utk menolong jutaan anak dan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka tidak perlu menyerah,” kata Norris. “Tantangan tidaklah terlalu tinggi bagi mereka untuk mewujudkan impian mereka. Saya ingin mereka menyadari, kalau saya dapat mengatasi perkara-perkara dalam hidup saya, tentunya mereka juga dapat melakukan hal yang serupa.”

By http://www.Betheden.info

*** (Diterjemahkan dari Baptist Press News)

— Dimuat di Bahana, April 2005