Mazmur 46:1-8 – A mighty Fortress Is Our Lord

Martin Luther (1483-1546), dilahirkan di Eisleben, Jerman. Ia sering bernyanyi di pinggir jalan agar dapat membayar uang sekolahnya. Pada suatu hari ada seorang wanita berpendidikan, Ursula Cotta dan suaminya mendengar Luther nyanyi. Mereka mengamati Luther yang kelihatan ringkih dan papa, mereka kemudian mengundang Luther tinggal bersama mereka. Ketika sedang belajar hukum di Universitas Erfurt, Luther berjalan melalui sebuah hutan dengan temannya. Tiba-tiba kilat menyambar temannya lalu mati. Dalam ketakutan, Luther memohon kepada Allah untuk mengampuni dosanya dan ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Tidak lama setelah itu, Luther menjadi seorang biarawan pada usia 22 tahun. Dengan rajin ia mengikuti semua upacara gereja, merendahkan diri, bahkan menyiksa diri. Ia berharap dengan jalan demikian ia akan mendapatkan pengampunan dosa. Tetapi semuanya terasa sia-sia.

Karena kepandaiannya yang luar biasa, Luther di didik terus sampai ia mencapai gelar Doktor Teologia dan menjadi seorang guru besar. Namun, ia belum menemukan kepuasan jiwa. Rasa bersalah masih tetap membayangi hatinya. Pertanayaan yang paling penting baginya adalah bagaimana seorang individu dapat berkenan kepada Allah. Semakin keras ia berusaha untuk menyenangkan Allah yang suci, semakin ia merasa putus asa.

Martin Luther terus mempelajari firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ketika ia sedang mempelajari Mazmur dan surat-surat paulus dalam Alkitab berbahasa Latin, ia melihat kebaikan Allah adalah suatu karunia yang harus diterima dan bukan merupakan suatu hadiah yang harus dimenangkan. Tiba-tiba ia mengerti bahwa manusia hanya dibenarkan oleh iman, bukan oleh perbuatan amal, upacara gerejawi, dsb. Pada tanggal 31 Oktober 1517 secara terbuka ia menentang hal-hal tersebut dengan memasang 95 dalilnya di depan pintu gereja All Saints’ Church, Wittenberg. Hari itu kemudian kita peringati sebagai Hari Reformasi.

Di tengah pergumulan pada permulaan Zaman reformasi, Luther juga memperjuangkan nyanyian jemaat. “Saya mengusahakan terjemahan Alkitab agar Tuhan dapat langsung berbicara kepada umatNya; dan mengusahakan nyanyian-nyanyian jemaat agar umatNya dapat langsung berbicara kepada Allah,” kata Luther. Lagu Mighty Fortress Is Our Lord (Allah jadi benteng kukuh) adalah salah satu dari 37 buah lagu ciptaannya. Mazmur 46 menjadi sumber inspirasi lagu ini. Ketika perjuangan reformasi mendapat perlawanan yang dahsyat dan kelihatannya akan kalah dan punah, Luther terus bersandar pada pertolongan ilahi. Para pembela gerakan reformasi menghadapi ajal mereka dengan menyanyikan lagu karangan Luther ini pada bibir mereka. Ketika mereka diusir, dianiaya, bahkan ketika mereka mati martir, mereka tetap menantang musuh-mussuh mereka dengan menyanyikan lagu yang luhur ini. Sudahkah Allah menjadi benteng dan perlingungan yang teguh bagi Anda ?

Disadur dari : Renungan Harian Manna Sorgawi

by Alfred