Orang benar akan hidup oleh iman ….(Roma 1:17)

Hidup oleh iman adalah kehidupan objektif. Absah atau konyol tergantung pada objeknya. Saya suka membandingkan iman dengan menelan. Seseorang mungkin berkata, “Menelan memungkinkan anda untuk hidup,” dan itu kedengarannya benar. Menelan makanan memang memungkinkan saya untuk hidup.

Namun, saya juga dapat menelan racun dan mati,memakai mekanisme yang sama dengan yang saya pakai untuk menelan makanan untuk hidup. Jadi, bukan menelan itu sendiri yang memberi nutrisi kepada saya, melainkan objek yang saya telan-makanan- yang memberi kekuatan pada tubuh saya.

Contoh bagus lainnya yang menunjukkan pentingnya objek iman adalah terbang dengan pesawat udara.

Katakanlah anda berangkat berlibur dan anda punya tiket untuk perusahaan penerbangan ternama. Apakah masuk akal untuk melakukan penerbangan itu? Fakta memberi tahu kita bahwa terbang adalah cara yang sangat aman untuk bepergian. Hanya sepersekian persen penerbangan yang mengalami kecelakaan. bahkan, pergi jarak jauh lewat udara lebih aman dari pada menempuh jarak yang sama dengan mengemudi.

Meski demikian, kita harus mengakui ada lompatan iman yang berperan, karena anda harus membawa 100 persen diri anda ke pesawat. namun, apakah itu masuk akal?

Kendati emosi anda mungkin sedikit gugup soal terbang, berdasarkan fakta anda harus mengambil keputusan keyakinan yang masuk akal dengan memercayakan diri anda pada jet untuk membawa anda ke tujuan. Beberapa orang mengatakan keputusan itu salah satu “iman buta” atau “lompatan irasional”.

Meski demikian, katakanlah saya menelepon anda untuk datang dan melihta penemuan baru yang luar biasa yang saya hasilkan. Saya mengajak anda ke kebun belakang dan dengan bangga memperlihatkan “pesawat terbang” yang baru saya buat. Yaitu, beberapa potong tripleks, kawat, ban bekas, dan mesin pemotong rumput yang dirakit jadi satu. Kemudian, saya menjelaskan rencana saya untuk menerbangkannya untuk uji terbang.

Saya ingin lepas landas dari lereng tebing, dan saya mengundang anda ikut. Ketika anda ragu-ragu, saya bertanya dengan nada tersinggung, “Mengapa? Anda tidak percaya kepada saya?”

Satu-satunya jawaban jujur dan cerdas yang dapat anda berikan adalah, “Tidak, saya tidak percaya anda!”

Misalkan saya menjawab: “Masalahnya anda tidak punya cukup iman!Anda pemikir negatif. Kalau anda punya cukup iman, pasti berhasil.”

Anda dapat melihat dari kedua ilustrasi ini-menelan racun dan pesawat terbang rongsokan Bob George- bahwa jumlah iman bukan persoalannya. persoalannya adalah sejauh mana objeknya dapat dipercaya. Seseorang dapat naik 727 dengan gemetar ketakutan, tetapi menemukan dirinya mendarat dengan selamat beberapa jam kemudian. Orang lain dapat naik pesawat terbang buatan saya dengan keyakinan mutlak dan iman total, tetapi jatuh seperti batu begitu meninggalkan tebing.

Objeknya, bukan jumlah iman yang menjadi persoalan.

Begitu juga dalam kehidupan kristiani kita. Alkitab memberi tahu kita bahwa orang benar akan hidup oleh iman. Namun, iman kepada siapa?

Bagi orang kristen, objek iman kita adalah Kristus sendiri. Kepada Dialah kita menyerahkan keseluruhan diri kita, keselamatan kita, dan keamanan kita.

Siapa yang percaya kepadaNya, tidak akan kecewa…(1 Petrus 2:6)

 

SOURCE: GRACE STORIES – BOB GEORGE